PEMONDOKAN PELAJAR

Seiring dengan tumbuhnya sekolah-sekolah pada awal abad 20, di Batavia tumbuh pemondokan pelajar atau rumah kos untuk menampung mereka yang tidak tertampung di asrama sekolah. Di antara rumah kos itu adalah rumah milik Sie Kong Liong di Jalan Kramat No. 106. Rumah kos ini dihuni oleh para pelajar Jawa yang bersekolah di STOVIA. Mereka terhimpun dalam perkumpulan Langen Siswo yang rutin berlatih kesenian dan berdiskusi mengenai kebangsaan. Pada 1926, rumah kos di Jalan Kramat 106 sudah dihuni oleh para pelajar dari luar Jawa, seperti Sumatra, Sulawesi, dan Ambon. Kemudian menjadi rumah pergerakan bagi Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI).

Indonesische Clubgebouw adalah nama yang tersemat untuk rumah kos yang pernah dihuni oleh tokoh-tokoh, seperti Muhammad Yamin, Abu Hanifah, Amir Sjarifudin, dan Djohannes Leimenna. Indonesische Clubgebouw menjadi salah satu tempat penyelenggaraan Kongres Pemuda Kedua pada rapat ketiga tanggal 28 Oktober 1928. Pada akhir kongres, lahir putusan ikrar yang dikenal Sumpah Pemuda dan diperdengarkan untuk pertama kalinya lagu kebangsaan Indonesia Raya ciptaan W.R. Supratman.

KEKUATAN SUMPAH

Sumpah adalah pernyataan yang diucapkan secara resmi dengan bersaksi kepada Tuhan, atau kepada sesuatu yang dianggap suci, dan disertai tekad melakukan sesuatu untuk menguatkan kebenarannya ( KBBI ). Sejak negara Indonesia belum berdiri hingga mencapai kemerdekaan, sumpah sudah memiliki peranan penting, dalam kehidupan manusia Indonesia.

 

Pada abad ke 7 salah satu kerajaan besar yaitu Sriwijaya, menggunakan pernyataan “sumpah” dalam dokumen prasasti, sehingga prasasti dikeluarkan oleh raja-raja Sriwijaya sering dikenal dengan “prasasti persumpahan”, salah satunya adalah prasasti Kota Kapur yang dikeluarkan tahun 686 M, salah satu isinya sebagi berikut :

………..Marppadah tida ya bhakti. tida yan tatvarjjawa diy aku. dngan diiyan nigalarku sanyasa datua. dhava vuathana uran inan nivunuh ya sumpah nisuruh tapik ya mulan parvvanda datu çriwi jaya……….

(siapa yang tidak berbakti kepadaku, tidak mau tunduk kepadaku, dan kepada mereka yang saya serahkan kekuasaan datu, maka orang-orang yang berbuat seperti itu akan terbunuh sumpah, dan kepada mereka dikirim pasukan atas perintah datu Sriwijaya.)

Sumpah juga diucapkan oleh Gadjah Mada, saat dilantik sebagai mahapatih kerajaan Majapahit abad ke 14, dan terkenal dengan “Sumpah Palapa”. Bagi M. Yamin Gadjah Mada adalah sosok pemersatu Nusantara, dan menjadi lambang persatuan Indonesia.

1/1

SUMPAH PALAPA

1/1

( Setibanya dari Sadeng…………, Gajah Mada menjadi patih amangkubumi. Gajah Mada tidak akan beristirahat/menikmati kesenangan. “Jika sudah menaklukan nusantara, saya akan istirahat/menikmati kesenangan, jika sudah menaklukkan Gurun, Seran, Tanjungpura, Aru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, setelah itu saya akan beristirahat/menikmati kesenangan. Pada saat itu para menteri/pembesar sedang duduk dipaseban. Kembar mengihina Gajah Mada. Baja juga ikut menghina. Jabung Terewes dan Lembu Peteng tertawa. Lalu turunlah Gajah Mada dan menghadap raja di Kahuripan.)

-Pararaton.

Dari kutipan naskah pararaton kita dapat mengetahui, bahwa untuk melaksanakan “Sumpah Palapa”, tidaklah mudah, dan Gajah Mada mendapat banyak rintangan. Tatapi Gajah Mada tidak putus asa, berkat dukungan utama dari raja Majapahit Tiribhuwanatunggadewi Jayawisnuwardhani ( Bhatara ring Kahuripan), dan para Menteri, Gajah Mada bersama panglima dan pasukan Majapahit, berhasil menaklukan, dan mempersatukan wilayah Nusantara.

Kerajaan Majapahit.jpg

© 2020 | Museum Sumpah Pemuda | Direktorat Jenderal Kebudayaan | Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan