PERHIMPUNAN INDONESIA

Menjadi organisasi para pelajar  tak cukup bagi Indische Vereeniging, berkembangnya organisasi kepemudaan di Hindia Belanda yang bersifat kedaerahan seperti Jong Java dan Jong Sumatera memdorong organisasi ini menjadi pelopor dalam upaya persatuan dan memperkenalkan konsepsi kebangsaan Indonesia. Memasuki tahun 1922 semangat keindonesiaan kian merasuki kesadaran pelajar Indonesia di Belanda. Nama Indische Vereeniging diubah menjadi Indonesische Vereeniging. Pada Rapat Umum 1 Maret 1924, Nazir Datoek Pamoentjak membacakan pernyataan bahwa hanya persatuan Indonesia yang mampu melawan penjajahan, dan sikap non kooperasi harus menjadi basis perjuangan rakyat Indonesia.

Pada 11 Januari 1925, masa kepengurusan Sukiman Wiriosandjojo, nama Indonesische Vereeniging diubah menjadi Perhimpoenan Indonesia pada 8 Februari 1925, dan nama majalah yang semula Hindia Poetra diganti menjadi Indonesia Merdeka. Sejak saat itu Perhimpunan Indonesia menjelma menjadi organisasi pergerakan nasional dan  rajin dalam upaya menyuarakan kemerdekaan Indonesia di dunia. Tulisa-tulisan para pengurusnya dibaca dan menginspirasi menguatkan semangat persatuan Indonesia.

BERSUARA DI DUNIA INTERNASIONAL

Perjuangan Perhimpunan Indonesia didunia Internasional diwujudkan melalu keikutsertaannya dalam Liga Anti Imperialisme yang mengadakan pertemuan 10 Februari 1927 di Brussel, Belgia. PI sendiri mengirim 5 orang delegasi: Bung Hatta, Nazir Pamontjak, Ahmad Subardjo, Gatot Tarumihardjo, dan Abdul Manaf. Pertemuan itu menghasilkan keputusan penting bagi perjuangan anti kolonialisme di Indonesia. Pertama, Kongres setuju mendukung penuh perjuangan kemerdekaan Indonesia dan siap membantu perjuangan itu dengan segala tenaga. Kedua, Kongres mendesak pemerintah Belanda segera memberi kemerdekaan penuh kepada Indonesia, menghapuskan pembuangan dan hukuman mati, serta memberi amnesti umum.

Bung Hatta mengakui, keikutsertaannya dalam Kongres Liga Anti Imperialisme sangat berpengaruh bagi dirinya. Ia bertemu dan berkenalan dengan tokoh-tokoh pergerakan buruh dunia jaman itu, seperti Georg Ledebour (Jerman), Edo Fimmen (Sekjend Federasi Serikat Buruh Transportasi Internasional), dan George Lansburry (pimpinan Partai Buruh Inggris). Selain bertemu dengan pemimpin pergerakan buruh, Bung Hatta juga berkenalan dengan pemimpin gerakan rakyat dari Asia dan Afrika, seperti Nehru (India), Hafiz Ramadhan Bey (Mesir), dan Senghor (Senegal).

PEREMPUAN BERSATU

Peristiwa Kongres Pemuda ke II tanggal 27-28 Oktober 1928 telah menghasilkan Ikrar Sumpah Pemuda mendorong organisasi pemuda untuk dapat menyatukan diri dan merubah haluan tujuan organisasinya lebih kearah persatuan dan tujuan bersama Indonesia merdeka. Tidak terkecuali tokoh-tokoh perempuan juga ingin berpartisipasi dalam perjuangan pergerakan nasional. kelompok guru muda Jong Java yang telah membentuk cabang Poetri Indonesia di Yogyakarta, kemudian membentuk Panitia Kongres Perempuan yang diketuai oleh R.A. Soekonto dengan Nyi Hajar Dewantoro sebagai wakilnya & Soejatien (Ketua Poetri Indonesia Cabang Yogya) sebagai sekretaris.

Kongres Perempuan I dilaksanakan di gedung Djoyodipuran ,Yogyakarta, 22-25 Desember 1928. Pekik “Hidup Persatuan Perempuan Indonesia “ bergema pada pembukaan Kongres Tersebut. Kongres tersebut tak menitikberatkan perjuangan perempuan dalam urusan politik tetapi memajukan posisi sosial perempuan dan kehidupan keluarga. Hasil kongres menuntut pemerintah kolonial untuk meningkatkan jumlah sekolah untuk anak perempuan, penjelasan taklik pada mempelai perempuan saat pernikahan, juga pembuatan aturan tentang pertolongan janda dan anak yatim piatu pegawai sipil.

INDONESIA VRIJ

Usai kongres Liga Anti Imperialis di Brussel, Bung Hatta kembali ke Negeri Belanda. Di sana ia makin aktif dalam gerakan politik anti-kolonial. September 1927, Bung Hatta bersama tiga kawannya—Nazir Pamoentjak, Ali Sastroamidjojo, dan Abdul Madjid Djojodiningrat—ditangkap oleh penguasa kolonialial Belanda. Mereka dituding terlibat dalam organisasi terlarang, terlibat dalam pemberontakan, dan penghasutan untuk melawan Kerajaan Belanda. Bung Hatta ditahan di penjara selama 5 bulan. Saat itu Bung Hatta sudah menyiapkan pledoi untuk dibacakan di depan pengadilan.  Judulnya tegas: “Indonesie Vrij” (Indonesia Merdeka). Sayang, sehari sebelum jadwal pembacaan pledoi-nya, Bung Hatta divonis bebas.

LAHIRNYA KEPANDUAN BANGSA INDONESIA

Setelah Kongres Pemuda II, cita-cita persatuan dikalangan pemuda semakin menyala, para pemuda yang tergabung dalam organisasi pemuda sudah mulai merumuskan penyatuan organisasi pemuda. Semangat persatuan juga sedang menggelora dikalangan pemuda yang bergabung dalam organisasi Kepanduan. Usaha untuk menggabungkan organisasi Kepanduan sebenarnya telah dilakukan sejak tahun 1928 dengan terbentuknya PAPI ( Persaudaraan Antar Pandu Indonesia), tetapi persatuan tersebut merupakan federasi.

 

Sebagai seorang pemuda dengan semangat yang berkobar-kobar yang menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan, dr. Muwardi melalui Pandu Kebangsaan mengambil inisiatif untuk mempersatukan seluruh organisasi Kepanduan yang ada saat itu. Gagasan penyatuan organisasi Kepanduan disambut baik oleh INPO ( Indonesische Natiolane Padvinder Organisatie ) dan PPS ( Pandoe Pemuda Soematera). Tanggal 13 September 1930 ketiga organisasi kepanduan tersebut melebur menjadi Kepanduan Bangsa Indonesia, sebagai salah satu perwujudan dari persatuan pemuda.

Pengurus Kwartir Besar Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI)foto 1

JAMBORE NASIONAL KBI

Jambore nasional KBI adalah kegiatan paling utama, karena kegiatan tersebut mempertemukan seluruh anggota cabang KBI di yang terletak di beberapa wilayah Indonesia. Khusus bagi para pemimpin pasukan dan pemimpin cabang, jambore nasional juga merupakan ajang untuk berbagi pengalaman dalam mendidik pandu KBI. Tidak jarang dalam pertemuan tersebut juga dibahas kondisi cabang KBI, mulai dari masalah yang dialami anggota pandu KBI, hingga kondisi keuangan di masing-masing cabang KBI.

 

Jambore nasional KBI tidak hanya diadakan disatutempat saja, tetapi berbindah tempat agar seluruh anggota KBI mengenal kondisi alam Indonesia, sehingga menimbulkan rasa cinta terhadap tanah air. Dengan mengikuti jambore nasional KBI, para pandu dari seluruh cabang KBI saling mengenal satu sama lain, sehingga menumbuhkan rasa persaudaraan yang berujung pada persatuan dan kesatuan dikalangan pemuda.

© 2020 | Museum Sumpah Pemuda | Direktorat Jenderal Kebudayaan | Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan