BAHASA PERLAWANAN

Menjunjung bahasa Indonesia adalah salah satu butir sakral dari ikrar ‘Sumpah Pemuda’, sebagai sebuah pernyataan penting mengenai identitas nasionalisme dalam berbahasa. Sebelum nasionalisme bahasa itu lahir ke permukaan. keberagaman bahasa daerah di Nusantara merupakan warisan yang tidak bisa dipungkiri sejak lampau. Sayangnya, kebinekaan berbahasa itu harus berhadapan dengan bahasa Belanda yang diidentikkan sebagai bahasa yang maju dan modern pada awal abad 20. Para pemuda berupaya menunjukkan identitas sebagai suatu bangsa. Mereka yang berasal dari  agama, suku, dan budaya berbeda berkumpul menghimpun kekuatan dan mengambil inisiatif perlawanan, menyadari bahwa penjajahan membawa banyak kemudaratan sekalipun bahasa. Mereka lantas menyerukan bahasa perlawanan, yaitu bahasa Indonesia untuk meruntuhkan hegemoni bahasa kolonial sekaligus menunjukkan nasionalisme Indonesia. 

Pengurus Komisi Besar Indonesia Muda (KBIM)
Mohammad Tabrani
Pengurus Keputrian Indonesia Muda pada 1929
Vandel IM

MENUJU BAHASA PERSATUAN

Manifesto Politik yang dikeluarkan para tokoh Perhimpunan Indonesia di Belanda pada 1925 memacu semangat para pemuda di Indonesia untuk mengambil langkah awal persatuan dengan mengadakan pertemuan di gedung Lux Orientis pada November 1925 yang dihadiri oleh perwakilan dari masing-masing Organisasi pemuda seperti Jong Java, Jong Sumateranen Bond, Sekar rukun, Jong Ambon dan Plajar Minahasa. Tindak lanjut dari pertemuan tersebut adalah diselenggarakannya Kongres Pemuda I pada 30 April – 2 Mei 1926 di Gedung Vrijmetselarslodgedi Jakarta. Dalam kongres ini, muncul gagasan bahasa persatuan yang dikemukakan oleh Muhamad Yamin.. 

PIDATO MOH. YAMIN DALAM KONGRES I

Meskipun menuai perdebatan tentang persetujuan bahasa persatuan, Namun kutipan pidato yang Muhammad Yamin yang disampaikan dalam kongres pemuda I berjudul “Hari Depan Bahasa-Bahasa Indonesia dan Kesusasteraannya”, menjadi alasan Yamin menggunakan kata ”menjunjung bahasa persatuan bahasa Indonesia”  dalam point Ketiga Sumpah Pemuda, agar bahasa daerah tidak diabaikan.

“Karena itu hendaknya bahasa-bahasa kita jangan pernah di abaikan, tetap dijunjung tinggi karena dalam bahasamu terletak jiwa bangsamu. Agungkanlah bahasa-jiwamu, salah satu cetusan kebudayaan yang paling berkuasa dari rakyatmu, junjunglah tinggi bersamamu itu dan jerih payah anda akan berhasil dengan kemenangan yang gilang gemilang dibidang kebudayaan”

1/1

MENJADI INDONESIA

Tindak lanjut Kongres Pemuda I tidak luput dari peran organisasi Perhimpunan Pelajar- Pelajar Indoensia (PPPI) yang lahir setelah Kongres tersebut berakhir. PPPI berhasil mengumpulkan para pemuda yang tergabung dalam berbagai Organisasi Daerah dengan diselenggarakannya Kongres Pemuda II di Batavia pada 27-28 Oktober 1928. Dalam kongres ini, usulan Bahasa persatuan kembali diajukan, atas kebesaran hati Muhammad Yamin yang setuju dengan Mohammad Tabrani bahwa bahasa persatuan haruslah bahasa Indonesia itu sendiri, Yamin dalam resolusinya tentang bahasa menyatakan “pentingnya menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia” bukan “mengaku berbahasa satu, bahasa Indonesia”, Resolusi itu memperlihatkan penghargaan kepada bahasa-bahasa daerah yang ada di Indonesia.

Peserta Kongres Pemuda Kedua
Panitia Kongres Pemuda Kedua
Putusan Sumpah Pemuda

© 2020 | Museum Sumpah Pemuda | Direktorat Jenderal Kebudayaan | Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan